9 Februari 2011

PENGHORMATAN KEPADA ASAL - TIGA PESAN PERUBAHAN & SEBELAS SIMPUL “TAU MANUSIA”

Ragam Bengkulu Hari ini, Blog berisikan konten Budaya Bengkulu, Sejarah Bengkulu, Kesenian Bengkulu, Dan Wisata Bengkulu.Penghormatan kepada asal merupakan suatu kewajiban sekaligus kesetiaan terhadap pusat-pusat kebudayaan (fisik, isi beserta nilai-nilainya) dan komunitas budaya yang mendiaminya. Beberapa kewajiban anggota komunitas budaya yang sekaligus sebagai tanda loyalitas terhadap kebudayaan: (1) Memelihara ingatan kita akan mereka yang sudah secara kreatif menciptakan pusat-pusat kebudayaan (fisik, isi dan nilai-nilainya); (2) Sadar akan nilai kebudayaan bagi hidup kita, memelihara kelangsungannya dengan meneruskannya kepada generasi berikutnya; (3) Mengeksplorasi lebih jauh, memperkaya, memperdalam, serta menyingkirkan berbagai unsur yang bersifat merusak; (4) Membela komunitasnya melawan pemahaman yang salah tentang nilai-nilai budaya; (5) Memerangi ketidak-adilan dan penindasan terhadap komunitas budaya. Adapun kesetiaan pada kebudayaan berarti kesetiaan kepada pusat-pusat kebudayaan, cara hidup termasuk nilai-nilai, ideal-ideal, sistem makna dan signifikansi, serta kepekaaan moral dan spiritual.

TIGA PESAN PERUBAHAN:

Pesan 1:
“… Zaman sebenarnya tidak mengandung apa-apa. Apa yang telah ditentukan, sudah selesai. Kita tidak membangun, kita meruntuhkan. Kita tidak menyatakan penemuan-penemuan baru tetapi melemparkan kepalsuan lama. Manusia hari ini, yang tidak merasa ba¬hagia dengan penemuannya, hanya meletakkan jembatan. Orang¬-orang yang tak dikenali, yang terhisab masa depan, yang akan melalui¬nya. Engkau, mungkin menyaksikannya. Janganlah engkau berdiri di belakang pantai ini. Lebih baik lenyap dalam revolusi daripada mencari keselamatan di dalam rumah sedekah dari reaksi. Kepercayaan tentang revolusi, tentang perbaikan masyarakat dengan hebat, adalah satu-satunya kepercayaan yang aku wariskan kepadamu. la tidak mengandung surga atau pahala yang lain melainkan pikiran benar¬mu, kesadaranmu sendiri.” (Alexander Herzen memberi pesan kepada puteranya).

Pesan 2:
“Setelah sebuah masa kehancuran datanglah titik balik. Cahaya penuh daya yang dahulu hilang kini bersinar kembali. Segala sesuatu adalah gerak namun bukan oleh tenaga… Gerak itu alami, mengalir spontan. Karena itulah pergantian menjadi mudah. Yang lama berakhir, yang baru terlahir. Keduanya berlangsung dalam saat yang telah ditentukan, karenanya tidak ada luka yang ditimbulkan” (I Ching).

Pesan 3:
Kehadiran masa lalu merupakan inspirasi, menjadi bahan dasar, titik tolak, sebagai roh untuk menuju pada masa depan. Masa depan bagi saya seperti ada di belakang, ada pada asal saya, tanah kelahiran nenek moyang saya, ada pada kisah-kisah leluhur saya. Kakek saya orang Makassar, dan dimakamkan di Makassar. Saya ingin ke Makassar mencari makam kakek saya. Saya sungguh bahagia bertemu dengan orang-orang Makassar, dan mengisahkan kembali tentang kerajaan Gowa di Benteng Somba Opu. Saya sungguh bahagia bekerja sama dengan orang-orang Makassar mementaskan kisah-kisah kami dahulu lewat The Eyes of Marege (Djakapurra, putera kepala suku Aborijin, konsultan budaya Australia ketika bincang-bincang pada tanggal 24 September 2007 di UNSW Sydney - Australia).

SEBELAS SIMPUL “TAU MANUSIA”

Simpul 1:
“Sadda, mappabati Ada (Bunyi mewujudkan kata)
Ada, mappabati Gau (Kata mewujudkan Perbuatan)
Gau, mappabati Tau (Perbuatan Mewujudkan Manusia)
Tau … sipakatau (Manusia Memanusiakan Manusia)
Mappaddupa (Membuktikannya dalam Dunia Realitas)
Nasaba (Karena)
Engkai Siri’ta nennia Pesseta (Kita Memiliki Siri dan Pesse)
Nassibawai (Disertai dengan):
Wawang ati mapaccing, lempu, getteng, warani, reso, amaccangeng, tenricau, maradeka nennia assimellereng (Kesucian hati, kejujuran, keteguhan, keberanian, kerja keras dan ketekunan, kecendekiaan, daya saing yang tinggi, kemerdekaan, kesolideran)”.

Simpul 2:
“Makkatenni Masse ri (Berpegang teguh pada)
Panngaderengnge na Mappasanre ri elo ullena (Panngadereng serta bertawakal kepada) Alla Taala (Kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa)”.
Toddo Puli Temmalara ri Wawang Ati Mapaccinnge Nassibawai Alempureng (Teguh tak Tergoyahkan pada Hati yang Suci-bersih disertai dengan Kejujuran)”.

Simpul 3:
"Jangan sampai engkau terlalu manis dan pahit, sebab jikalau engkau terlalu manis, kau akan ditelan, jikalau engkau terlalu pahit, kau akan dimuntahkan”

Simpul 4:
“Karaeng Matoaya, Sultan Abdullah, berpesan kepada Karaeng Tumenanga ri Bontobireng. Apa kiranya yang akan kuwariskan kepadamu, mungkin memadai dengan lima perkataan ini saja: (1) Jika ada yang hendak dikerjakan perhatikan akibat perbuatan itu; (2) Jangan marah jika kau diingatkan; (3) Takutilah orang jujur; (4) Berita angin jangan didengarkan; (5) Barulah engkau berpuasa bila engkau merasa sempit.”

Simpul 5:
“Ditekankan oleh Karaeng ri Ujungtana mengenai kejujuran dan kecurangan, bahwa janganlah seorang raja menyukai orang yang tidak bermanfaat, meskipun dia termasuk keluargamu, pembantu di dalam rumahmu. Jika engkau menyukai orang yang demikian, maka orang akan terpancing prasangkanya, apa gerangan yang menyebabkan raja menyukai orang itu, padahal tidak ada juga manfaat yang dibuatnya. Akibat mereka saling cemburu, selanjutnya makin berkuranglah orang - orang yang kau harapkan untuk berperan dalam pembangunan kerajaan. Engkau wahai raja telah menderita perasaan risau.”

Simpul 6:
“Dasar persaudaraan kita: Mali siparappe, malilu sipakainge. Sirebba tannga tessirebba pasorong. Padaidi pada elo, sipatuo sipatakkong. Siwata menre, tessirui no. (Kita saling mengulurkan tangan ketika hanyut. Kita saling menghidupkan karena kita seia sekata. Saling mengangkat dan tak saling menjatuhkan. Berbeda pendapat, tetapi tidak menyebabkan adu kekuatan)”.

Simpul 7:
“Empat hal yang membawa kepada kebaikan: (1) Pikiran yang benar; (3) Jualan yang halal; (3) Melaksanakan perbuatan benar; (4) Berhati-hati menghadapi perbuatan buruk.”

Simpul 8:
“Empat macam yang memburukkan niat dan pikiran, yaitu: (1) Kemauan; (2) Ketakutan; (3) Keengganan; dan (4) Kemarahan.”

Simpul 9:
“Manusia yang jujur memiliki empat ciri, yaitu: (1) Ia dapat melihat kesalahannya sendiri; (2) Mampu memaafkan kesalahan orang lain; (3) Kalau ia diberi kepercayaan untuk menangani suatu urusan, ia tidak berhianat; dan (4) Ia menepati janji yang diucapkan.”

Simpul 10:
“Adapun syarat eratnya persaudaraan itu meliputi 5 hal, yaitu: (1) Mau sependeritaan; (2) Sama-sama merasakan kegembiraan; (3) Rela memberikan harta benda sewajarnya; (4) Ingat mengingatkan pada hal-hal yang benar; dan (4) Selalu saling memaafkan.”

Simpul 11:
“Engkau angin sedang kami ini daun kayu. Kemana engkau berhembus ke situ kami terbawa. Kehendakmulah yang berlaku atas kami. Kata-katamulah yang jadi. Jika engkau mengundang, kami datang. Memintalah dan kami memberi. Memanggillah dan kami menyahut. Walaupun anak dan isteri kami, (kalau) engkau tidak senangi, kami pun ikut tidak menyenanginya.”
[ ... ]

kerajaan Gowa pada abad ke 17

Ragam Bengkulu Hari ini, Blog berisikan konten Budaya Bengkulu, Sejarah Bengkulu, Kesenian Bengkulu, Dan Wisata Bengkulu. .Setiap orang yang bertempat tinggal di Ujung Pandang ( Makassar) dan setiap orang yang datang di kota ini, sebagai seorang turis domestic maupun ia datang untuk kepentingan dinas dan sebagainya. Orang itu pasti tahu dan telah mendengar nama SOMBAOPU.

Namun pengetahuan mereka mungkin hanya terbatas pada SOMBAOPU,sebagai shoppin-centre, sebagai pusat pertokoan atau sebagai pusat perbelanjaan saja, karena di pusat perbelanjaan SOMBAOPU” memang terdapat took-toko yang menjual “SOUVENIR-SOUVENIR” khas Sulawesi-Selatan atau Ujung Pandang yang akan dibawa pulang sebagai buah-tangan atau oleh-oleh.

Akan tetapi mungkin tidak banyak orang yang tahu, apa arti dan nilai serta di mana letak Sombaopu yang sebenarnya.

SOMBAOPU adalah BENTENG UTAMA, IBUKOTA dan PELABUHAN INTERNASIONAL KERAJAAN Gowa pada abad ketujuh belas.

1. LETAKNYA

Benteng Sombaopu terletak di tepi pantai (Selat Makassar), pada garis 50 41 Lintang Selatan (het fort Sombaopu op Macassar, gelegan dichtden strant op 5 graden en 4 minuten suider breedte.

Untuk mengetahui dimana tempatnya letak bekas benteng utama dan benteng kebanggaan kerajaan Gowa itu, dapat kita ambil sebagai ancer-ancer desa Sapiria. Desa ini adalah sebuah desa lama yang termasuk di dalam wilayah Kelurahan Barombong, Kecamatan Pangga, Daerah Tingkat II atau Kabupaten Gowa. Di dalam peta daerah (bagian sungguminasa) desa saparia tidak disebut. Yang ada ialah desa Sarombe. Dari keterangan penduduk (pada waktu kami mengadakan penelitian lapangan) kami memperoleh penjelasan bahwa desa Sarombe terdiri dari tiga buah desa kecil, yakni :

1. desa Saparia di sebelah timur
2. desa Kaccia di tengah-tengah, dan
3. desa Sarombe yang sebenarnya di sebelah barat.

Jarak daerah Sapiria dari pusat kota Ujung Pandang (Makassar) sekarang ada kurang lebih delapan atau Sembilan kilometer ke daerah selatan. Dari kota Sungguminasa (ibukota Daerah Tingkat II atau Kabupaten Gowa sekarang) ada kurang lebih dua sampai tiga kilometer kearah barat. Didepan daerah SOMBAOPU menghadap ke laut terdapat terdapat daerah Tanjung Alang yakni tanah endapan (Sungai Berang) yang masih muda usianya dan pada masa jayanya SOMBAOPU tanah endapan tersebut belum ada (masih lautan).

Pada waktu kami mengadakan penelitian lapangan (tahun 1964) rakyat di daerah tersebut, bahkan Andi Baso Pabbicara Butta, ex Rijksbestuurdeen Kerajaan sendiri, yang menyertai kami di dalam penelitian kami, tidak tahu dengan pasti letak benteng Sombaopu. Jadi rakyat disekitar desa Sarombe (Sapiria dan Kaccia) tidak mengerti serta tidak tahu bahwa desa tempat tinggal mereka sekarang ini pernah menjadi ibukota da Bandar atau pelabuhan internasional kerajaan Gowa yang pada abad ke tujuh belas menjadi pusat kegiatan politik dan ekonomi di Indonesia bagian timur.

Lokasi SOMBAOPU dapat dipastikan ada di daerah tempat desa Sapiria sekarang. Hal ini diperkuat oleh sebuah keterangan tertulis di dalam Lontara tertanggal 16 oktober 1781 pada waktu penobatan Raja Gowa yang ke 29 I MANNAWARI KARAENG BONTO LANTASA MANGASA SULTAN ABDUL HADI menggantikan ayah beliau Raja Gowa yang ke-28 I TEMMASONGENG KARAENG KATANGKA SULTAN ZAINUDDIN TUMENANGA RI MATTOANGING. Didalam pasal 2 kontrak tersebut ada disebut nama daerah Sapiria ‘di dalam kurung’ Sombaopu.

Sekarang ini orang dengan mudah dapat mencapai desa Sapiria atau SOMBAOPU dengan kendaraan bermotor dari Ujung Pandang (Makassar) kearah selatan lewat Jongaya sampai ketepi Sungai Berang atau Jene Berang. Kemudian kita menyeberang dengan sampan, lalu setelah berjalan kaki kurang lebih satu setengah kilometer dari tepi Jenne Berang sampailah kita ke daerah Sapiria atau SOMBAOPU



1. SOMBAOPU IBUKOTA DAN PELABUHAN INTERNASIONAL KERAJAAN GOWA

Sebelum jatuh pada tanggal 24 Juni 1669, SOMBAOPU adalah tempat kediaman Raja Gowa da menjadi ibukota serta Bandar teramai atau internasional kerajaan Gowa. Banyak sejarawan dan penulis sejarah sadar atau tidak sadar, dengan sengaja atau tidak sengaja membuat kesalahan dengan menyebut Makassar (pakai dua s) atau Makasar (pakai satu s) sebagai ibukota dan pelabuhan utama kerajaan Gowa. Pada waktu itu kota Makasar atau Ujung Pandang sekarang belumlah apa-apa, dibandingkan dengan keadaan SOMBAOPU yang pada abad ke-17 telah menjadi Bandar yang sangat ramai dan telah menjadi pelabuhan internasional serta menjadi pusat kegiatan politik dan ekonomi di kawasan Indonesia di bagian timur.

SOMBAOPU dilindungi oleh tembok lingkar (ringmuur) yang dua belas kali tebalnya . Atau kurang lebih 3,648 meter, sehingga merupakan kedua benteng yang tangguh. Di dalam benteng itu ditempatkan alat-alat persenjataan seperti meriam, bedil, dan lain-lainnya.

SOMBAOPU adalah sebuah ibukota kerajaan berciri “­abad pertengahan” uang mempunyai tata kota yang berpola sebagai berikut: “di dalam bentang yang dikelilingi sebuah tembok lingkar terdapat istana yang menjadi tempat kediaman raja Gowa dan rumah-rumah tempat kediama keluarga raja, para bangsawan, pembesar dan pegawai-pegawai kerajaan. Ibu kota kerajaan yang menjadi tempat kediaman raja atau sultan beserta para pembesar dari pegawai kerajaan sekaligus merupakan benteng pertahanan yang dilindungi dinding berupa tembok lingkar (ringmuur) yang tinggi dan tebal serta diperlengkapi dengan senjata meriam, bedil atau alat-alat pertahanan lainnya adalah ciri umum atau pola kelaziman sebuah ibukota pada abad-abad itu.

Di luar benteng atau tembok lingkar biasanya tinggal para “prajurit” dan keluarganya, tukang-tukang atau pandai-pandai, para pedagang atau saudagar, para penduduk atau rakyat biasa dan seringpula para perantau dan pedagang-pedagang bangsa asing. Demikian pulalah kedaan dengan SOMBAOPU ibukota dan sekaligus menjadi Bandar atau pelabuhan teramai kota Gowa.

Tentang keadaan ibukota kerajaan Gowa pada abad ke 17 yang dimuat didalam “Corte Remonstrancie” dari seorang saudagar kepala (opperkoopman) yang bermana Hendrik Kerckringh tertanggal 24 September 1638, yakni kurang lebih 15 tahun sebelumSultan Hasanuddin menaiki tahta kerajaan Gowa pada tahun 1653, dapat dipastikan bahwa : benteng SOMBAOPU terletak di tepi pantai, pada garis 50 4’ Lintang Selatan dan merupakan benteng besar dengan tembok ingkar yang dibuat dari batu bata dan batu karang. Raja dan para pembesar kerajaan bertempat tinggal di dalam benteng, di rumah-rumah yang didirikan diatas tiang-tiang besar dengan mempergunakan bahan-bahan dari papan kayu, beratapkan sirap atau atap mipa. Antara satu mil dari SOMBAOPU terdapat sebuah benteng didekat pantai yang dinamakan “odioupanda” (maksudnya Ujung Pandang menurut penelitian kami jarak potong kompas antara benteng Sombaopu dan Benteng Ujung Pandang ada kurang lebih empat mil). Benteng Ujung Pandang dibuat dari batu bata dan batu karang. Kira-kira setengah mil dari SOMBAOPU arah ke selatan terdapat Benteng Grise (maksudnya Benteng Garassi) dan Panakoeka (maksudnya Benteng Panakkukang).

Orang melayu yang bertempat tinggal di SOMBAOPU baik sekali hubungan nya dengan orang-orang Makassar. Mereka mempunyai kedudukan yang baik dan terpandang di dalam masyarakat. Mereka tinggal di rumah-rumah yang didirikan di antara rumah-rumah orang Makassar. Orang-orang Inggris dan orang-orang Denmark bertempat tinggal di sebelah utara Benteng SOMBAOPU di dalam rumah-rumah yang baik keadaannya.

Pelayaran dari SOMBAOPU yang terbanyak diadakan dalam bulan-bulan Desember, Januari dan February melalui Buton menuju Amboina (Maluku) dengan membawa barang-barang dagangan seperti : bahan-bahan pakaian, beras, porcelain, dan lain-lainnya. Perahu-perahu itu menetap di Amboina sampai bulan Juni, Juli, Agustus dan September untuk membeli dan mengangkut rempah-rempah dari Maluku.

Orang-orang Purtugis yang bertempat tinggal di dekat Benteng SOMBAOPU, yakni disebelah utaranya. Mereka diam dirumah-rumah yang dibuat dari pada bambu dan diperkenankan juga oleh Raja Gowa mempergunakan sebuah rumah untuk melakukan upacaranya. Disebelah utara Benteng SOMBAOPU, kompeni Belanda (VOC) diizinkan pula untuk mendirikan kantor dagangnya.

Sungguhpun apa yang digambarkan oleh Hendrik Kerckringh itu masih harus diuji kebenarannya, namun dapatlah kiranya keterangan itu dipergunakan sebagai bahan dan pegagangan untuk menggambarkan betapa kira-kira keadaan SOMBAOPU di sekitar tahun 1638. Dari keterangan Hendrik Kerkringh itu dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa SOMBAOPU selain menjadi ibukota kerajaan Gowa tempat Raja Gowa bersemayam, juga merupakan sebuah Bandar yang besar dan ramai perniagaannya.

Jikalau menyadari bahwa kerajaan Gowa memegang supermasi dan hegemoni di kawasan Sulawesi dan Indonesia bagian timur, maka tentu saja SOMBAOPU didiami olek rakyak Gowa dan orang-orang suku Makasar, juga didiami oleh suku-suku bangsa lainnya yang tunduk dibawah dibawah kekuasaan atau bersahabat dengan kerajaan Gowa seperti orang-orang Bugis dari kerajaan Wajo, Luwu, Bone, Soppeng dan lain-lainnya orang-orang Mandar, orang-orang Toraja, orang-orang Selayar, orang-orang Buton dan suku-suku lainnya dari Indonesia bagian timur.

Bahkan SOMBAOPU juga didiami orang dari Pahang, Patani, Campa, Minangkabau dan johor. Hal ini dapat kita ketahui dari dialog antara Raja Gowa dan pemimpin para perantau atau pedagang-pedagang itu di dalam “Patturioloangnga ri Tugowayya” sebagai berikut: Nakanatedong karaenga: “Siapai rupanna nulailalang kana-kana” Nakanamo Anakkoda Bonang :” Sikontukang ikambe mallipa baraya kontui Pahanga. Patania Campaya, Marangkaboa. Johoraka. Artinya : Berkatalah pula Raja (Gowa): berapa jenis (orang) yang kau masukkan ke dalam permintaanmu itu? Berkatalah Anakkoda Bonang: “Semua kami bersarung ikat ialah (orang) Pahang, Patani, Campa, Minangkabau, dan Johor”.

Di dalam buku “Sejarah Gowa” yang disusun oleh Abd. Rasak Daeng Patunru dapat pula kta baca sebagai berikut:

“Pada waktu itu sudah banyak orang melayu di Pahang, Patani, Johor dan Sumatera, tinggal berdagang di kampong Mangallekana (Somba-Opu). Untuk mereka itu didirikan oleh baginda sebuah mesjid. Disamping mereka berdagang, merekapun tidak ketinggalan untuk menyebarkan secara lunak ajaran Islam dikalangan Masyarakat Gowa.

Selanjutnya SOMBAOPU didiami pula oleh bangsa-bangsa Eropa seperti bangsa Denmark, bangsa Inggris, bangsa Portugis, bangsa Spanyol dan orang-orang Belanda. Jadipada waktu itu SOMBAOPU sudah merupakan sebuah kota dan Bandar Internasional yang ramai. Letaknya memang sangat stratetis dan baik sekali dipandang dari segi lalu lintas perdagangan dan pelayaran. SOMBAOPU menghubungkan daerah Maluku di sebelah timur terkenal sebagai gudang rempah-rempah yang sangat diperlukan di Eropa pada waktu itu dan bandar Malaka di sebelah barat yang mempunyai arti sangat penting bagi lalu-lintas perdagangan Internasional. Demikianlanlah SOMBAOPU ibi kota dan pelabuhan internasional kerajaan Gowa.



III. SOMBAOPU BENTENG UTAMA DAN BENTENG KEBANGGAAN KERAJAAN GOWA

Pada abad ketujuh belas kerajaan Gowa merupakan kerajaan yang terbesar kekuasaan dan pengaruhnya di Sulawesi, bahkan di seluruh Indonesia bagian timur. Sejalan dengan makin berkembangnya kerajaan Gowa, makin bertambah pula kemungkinan adanya perlawanan dan serangan-serangan terhadap kekuasaan kerajaan gowa, baik dari dalam maupun dari luar. Kemungkinan itu makin bertambah besar lagi dengan kedatangan bangsa-bangsa barat yang mempunyai maksud-maksud yang serakah ke tanah air kita seperti bangsa-bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, dan terutama bangsa Belanda. Oleh karena itu kerajaan Gowa makin jaya merasa sangat perlu dan amat berkentingan untuk memperkuat perbentengan serta pertahanannya. Selain BENTENG SOMBAOPU dibangun dan didirikanlah serangkaian benteng-benteng pertahanan yang terkenal di dalam sejarah perlawanan rakyat Gowa terhadap penjajahan Belanda.

Adapun rangkaian perbentengan yang di dalam arti trategis militer merupakan suatu kesatuan pertahan yang tangguh bagaikan dinding baja yang kuat dsn kokoh terhadap serangan-serangan, terutama srangan-serangan musuh dari luar, yakni dari arah laut atau dari arah Selat Makasar. Pantai kerajaan Gowamerupakan mata rantai benteng-benteng pertahanan yang kuat. Yang terpenting dan yang terutama serta yang terbesar di antara benteng-benteng itu ialah BENTENG SOMBAOPU. Benteng itu adalah benteng kebanggaan kerajaan Gowa. Kemudian ada lagi: Benteng Tallo, Benteng Ujung Tana, Benteng Ujung Pandang, Benteng Mariso, Benteng Panakukang, Benteng Garassi, Benteng galesong, Benteng Barombong dan lain-lainnya.

Jadi benteng utama dan benteng kebanggaan kerajaan gowa BENTENG SOMBAOPU. Kapan atau apabila benteng tersebut dibangun atau didirikan tidak ada tanggal yang pasti yang menyebutkannya.

Di dalam buku “Sejarah Gowa” yang didususun oleh Abd. Rasak Daeng Patunru ada ditulis antara lain sebagai berikut: (ditulis didalam ejaan yang disempurnakan, penulis) “Diriwayatkan selanjutnya, bahwa Raja Gowa ke IX pernah juga berperang di kampong Pammolikang dalam daerah Gowa dengan orang-orang Jawa yang dipimpin oleh seirang yang bernama “I Galasi”.

Baginda yang mulai membentengi dengan batu bata disekeliling ibukota Kerajaan Gowa, yaitu Somba-Opu. Baginda mangkat dalam pertengahanabad ke enambelas (kira-kira 1543 atau 1546), setekah mengendalikan kerajaan Gowa kira-kira 36 tahun lamanya.

Di dalam “Bingkisan Sejarah Gowa” ada disebutkan antara lain sebagai berikut: Iatommi Karaeng ambata nide’deki Goa siagang Sombaopu anjo Karaeng Tumapa’risi Kallona ambata buttai” artinya: Dialah juga Raja yang membuat dinding batu bata disekeliling negeri Gowa dan Sombaopu. Raja Tumapa’risi Kallona (telah) membuat diding dari tanah.

Di dalam “Sejarah Kerajaan Tallo” yang disusun oleh Abd.Rahim dan Drs. Ridwan Borahima antara lain disebut sebagai berikut: Iaminne Karaeng Ambatubatai Tallo’. Sangnginji tumakkajannanganna, teai bembengka’doi, teai bilang tau Iatomminne Karaeng ambatabatui Ujung Pandang, Pa’nakukang, Ujungtana ampapparekangi timungeng nikalo-kalo Sombaopu. Artinya: Inilah raja yang bembikin dinding benteng di Tallo’ dari batu (yang bekerja) semuanya tumakkajannanggannya, buka bembengka’do bukan rakyak yang dikerahkan. Inilah Raja yang membikin dinding batu sekeliling UjungPandang, ke Ujungtana membikin pintu gerbang yang berbentuk melengkung (pada benteng) Sombaopu. (Ct.9) Di dalam sumber (tulisan-tulisan) Belanda ada disebutkan sebagai berikut: “Wel moge hier nog het volgende omtrent Sombaopu morden gememoreerd: het is gebouwd onder de regeering van tonidjollo (1565-1590). Onder welken vorst de kasteelen Sombaopu (Samboupu,Sambopo). Barombong en Oedjong Tanah zijn gebouwd. Het eerste omstreeks 1580 met hulp van Portugeezen, die ook als intructeurs bij het gieten van het gesc hut dienst deden. Terjemahan bebasnya: Bolehpula tentang Sombaopu disini dicatat (diingat) : Benteng itu dibangun di bawah pemerintahan Tunijallo (1565-1590), di bawah pemerintahan Raja ini di bangun benteng-benteng, Sombaopu, Barombong, dan Ujung tana, yang pertama (Benteng Sombaopu, penulis) di sekitar tahun 1580, dengan bantuan orang-orang Portugis yang juga bekerja sebagai instruktur pada waktu menuang meriam itu (meriam Anak Makasar, penulis).

Demikianlah bebrapa keterangan tertulis mengenai pembangunan aatu proses pembangunan BENTENG SOMBAOPU. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa BENTENG SOMBAOPU sudah ada dan berdiri pada zaman pemerintahan Raja Gowa IX, yakni Karaeng Tumapa’risi Kallona, yang kemudian diperkuat dan disempurnakan oleh Raja-raja Gowa sesudah beliau sampai menjadi benteng utama dan benteng kebanggaan Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke XVI Sultan Hasanuddin (1631-1670). BENTENG SOMBAOPU terletak di tepi pantai Selat Makassar diapit oleh dua buah sungai, yakni sungai Berang atau Jenne Berang di sebelah utara dan Sungai Ujung Pucu di sebelah selatan. Kedua sungai itu sekaligus merupakan “parit alam” yang melindungi BENTENG SOMBAOPU dari musuh yang datang meeyerang dari sebelah utara atau dari sebelah selatan. BENTENG SOMBAOPU sendiri menghadap ke arah barat, yakni kea arah selat Makasar, sedang di belakang atau di sebelah timur membentang daerah “kale Gowa”, artinya daerah inti yang merupakan daerah batang tubuh kerajaan Gowa.

Sebagai benteng utama dan jantung pertahanan Kerajaan Gowa, BENTENG SOMBAOPU dilindungi oleh kubu-kubu pertahanan dan benteng-benteng pengawal, antara lain si sebelah selatan terdapat Benteng Garassi, Benteng Panakukang dan Benteng Barombong, sedang di sebaelah utara BENTENG SOMBAOPU dilindungi dan dikawal oleh Benteng Ujung Pandang dan Benteng ujung Tana.

Sejak BENTENG SOMBAOPU berdiri, sudah bebrapa kali benteng kebanggaan kerajaan Gowa itu diuji keampuhan dan ketangguhannya oleh serangan-serangan dan tembakan-tembakan meriam musuh, yakni antara lain:

1. Penembakan-penembakan oleh meriam-meriam dari armada Belanda (VOC) yang dipimpin oleh laksamana de Vlamingh pada tahun 1655.
2. Penembakan-penembakan oleh meriam-meriam armada Belanda (VOC) yang dipinpin oleh Johan van Dam dan J. Truyman. Armada ini menembaki benteng SOMBAOPU, Ujung Pandang dan Panakukang pada bulan Mei tahun 1660.
3. Setelah armada Belanda (VOC) yang dipimpin oleh laksamana Speelman tidak berhasil menggetak dan menakut-nakuti orang-orang Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin, maka terjadilah tembak menembak dan duet meriam yang sangat seru antara kappa-kapal perang Belanda (VOC) dan benteng pertahanan SOMBAOPU. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 21 Desember 1666.
4. Pada tanggal 19 Juli 1667, sejak pagi-pagi sekali sampai setelah matahari terbenam di ufuk barat, terjadi tembak-menembak dan duel meriam yang sangat seru dan tiada henti-hentinya antara benteng-benteng pertahanan kerajaan Gowa terutama BENTENG SOMBAOPU dan kapal-kapal Belanda (VOC).

Bahkan pada hari itu tidak kurang dari 4000 (empat ribu) tembakan yang dilepaskan oleh meriam-meriam kapal-kapal Belanda (VOC) dan kurang lebih spertiga persediaan peluru dan mesiu Belanda yang dihabiskan pada hari itu.

Pada waktu malam tiba Speelman memerintahkan agar kapal-kapal Belanda menjauhi jarak tembak meriam-meriam pertahana kerajaan Gowa, terutama meriam “ANAK MAKASAR” yang dahsyat.

Pada keesokan harinya, yakni pada tanggal 20 Juli 1667 Speelman mengadakan pertemuan dengan staf dan pembantu-pembantunya. Di dalam pertemuan itu disepakati dan kemudia diperintahkan agar jangan lagi mengadakan tembakan-tembakan yang seseru hari tanggal 19 Juli 1667. Dikuatirkan kalau persediaan peluru dan mesiu Belanda (VOC) tidak akan cukup melakukan tembak menembak yang seperti itu sampai beberapa hari lamanya.

Jadi tembakan-tembakan meriam Belanda itu sedikitpun tidak menggetarkan hati rakya Gowa. Bahkan rakyat Gowa menyambut armada Belanda(VOC) itu dengan tantangan. Di dalam buku Dr.F.W Stapel “Het Bongaais Verdrag” ada dikatakan antara lain sebagai berikut: “Te twee uur’s middags voer de zien dat de kust ductig versterkt was, en van barombong tot het fort Yongpandanch den elcandre gehegt. Ook zag men een geweldige mensenmenigte aan het strand en ontallycke vlagge van veelderhande colure. Waamee uittantende bewegingen warden gemaakt.” Terjemahan bebasnya: Jam dua siang armada Belanda dengan mengibarkan panji perangnya berlayar memasuki pelabuhan sampai dekat kota (Sombaopu, penulis). Orang dapat melihat bahwa seluruh pantai sangat diperkuat pertahanannya. Pertahanan yang ketat itu berarti sambung-menyambung dari barombong sampai ke Ujung Pandang. Juga dapat dilihat lautan manusia di tepi pantai dengan membawa panji-panji yang beraneka warna tak terhitung banyaknya. Dengan panji-panji itu mereka melakukan gerakan yang sifatnya menantang.

Duel meriam dan tembakan-tembakan gencar dari kapal-kapal armada Belanda (VOC) itu merupakan ujian pertahanan BENTENG SOMBAOPU dapat menandingi tembakan-tembakan gencar meriam-meriam pihak musuh.

BENTENG SOMBAOP terbentuk persegi empat dengan panjang sebuah sisinya kurang lebih dua kilometer, tinggi tembok lingkar (ringmuur)nya kurang lebih tujuh sampai delapan meter, sedang tebal tembok lingkar itu rata-rata 12 kaki atau kurang lebih 3,6 meter, sehingga prajurit-prajurit dengan mudah dapat berbaris berkeliling diatas tembok lingkar itu yang merupakan sebuah “jalan” atau ”lorong” yang 3,6 meter lebarnya. Pada tembok lingkar sebelah barat (arah Selat Makassar) terdapat empat buah selokan baluwara atau katelum (bolwerk) yang berbentuk bundar (setengah lingkaran). Diselekoh-selekoh inilah ditempatkan meriam-meriam pertahanan. Di sudut barat laut terdapat sebuah selokoh yang besar yang disebut Baluara Agung. Di Baluara Agung inilah di tempatkan meriam “Anak Makassar” ,yakni sebuah meriam yang dahsyat dan sangat besar ukurannya.

Sebuah selekoh atau baluara lagi yang besar di tempatkan di sudut barat daya, sedang kedua selekoh atau baluara yang berada di sisi barat diantara kedau buah selekoh yang besar itu agak lebih kecil ukurannya. Pada sisi tembok lingkar sebelah utara terdapat dua buah selekoh (tentunya tiga dengan Baluara Agung) yang berbentuk persegi, di tengah-tengah dan sebuah lagi merupakan selekoh atau baluara sudut yang menghadap ke arah timur laut. Tembok lingkar disisi sebelah selatan dan timur tidak begitu diperkuat (tidak diberi selekoh, baluara, atau katelum), karena musuh diperhitungkan akan datang dari arah barat dan dari arah utara. Di bagian selatan dan timur terbentang daerah inti kerajaan Gowa yang sering juga disebut “Kale Gowa”.

BENTENG SOMBAOPU seolah-olah merupakan benteng yang bersaf-saf atau berlapis-lapis tembok lingkarnya, Karena istana Raja yang ada di dalamnya dilindungi oleh tambok lingkar yang berselekoh dua buah. Demikian pula rumah-rumah dan bangunan-bangunan lainnya yang berbentuk rumah Makassar yang tinggi dilindungi oleh dinding atau tembok lingkar yang ada di dalam keadaan darurat dapat dipergunakan sebagai kubu atau benteng pertahanan yang terdapat di dalam BENTENG SOMBAOPU itu memang ternyata harus direbut oleh pasukan-pasukan Belanda dan sekutu-sekutunya satu demi satu dengan pengorbanan yang tidak sedikit jumlahnya.

Didalam “Geschiedenis van het heiling kanon van Makassar” tentang bentuk Sombaopu antara lain ditulis sebagai berikut : “Het kasteel sambaopu was veirkant : het westfront (het_zee front) en het Noordfront waren zwaarversterkt., het zuid- en Oostfront minder: aan de Wesrzijde lagen het ziudar-zee-bolwerk, hed Midden-bolwerk, en het Noordwest- of Groot bolwerk: op dit laatste bolwerk was het kanon Anak Makassar geplaastst Fen duidelijke afbeelding van Samboupovindt men bij Valentin Deel III: 2. Plaat 23.*) terjemahan bebasnya : Benteng Sombaopu berbentuk segi empat; sisi barat (kea rah timur) dan sisi utara sangat diperkuat, sisi selatan dan sisi timur kurang diperkuat ; pada sisi bagian barat terletak Baluara Barat-Daya Baluara Tengah dan Baluara Barat-Laut atau Baluara agung; pada Baluara yang terakhir inilah ditempatkan meriam “anak Makassar”. Sustu gambaran yang jelas tentang sombaopu dapat kita temukan pada Valentijn, jilit III:2, gambar 23.

1. PERTEMPURAN SERU MEMPEREBUTKAN BENTENG SOMBAOPU

Di dalam “PERJANJIAN BUNGAYA” yang ditandatangani pada tanggal 10 November 1667 antara lain disebutkan bahwa semua benteng kerajaan Gowa seperti benteng Bar ombong, benteng Panakukkang, benteng Garassi, benteng Mariso dan lain-lainnya harus dimusnahkan. Juga tidak boleh lagi mendirikan benteng-benteng atau kubu pertahanan yang baru dimanapun juga. Hanya benteng BENTENG SOMBAOPU yang besar itu yang boleh tetap berdiri untuk raja Gowa, sedang benteng ujung pandang yang terletak di sebelah utara harus dikosongkan oleh pasukan-pasukan kerajaan Gowa untuk kemudian diserahkan di dalam keadaan yang baik kepada Kompeni Belanda (VOC) yang akan menempatkan pasukan-pasukannya di dalam benteng itu.

Tidaklah benar jikalau peperangan antara Belanda (VOC) yang dipimpin oleh Speelman dan dibantu oleh kawan-kawan serta sekutu-sekutunya melawan kerajaan Gowa yang di pimpin oleh Sultan Hasanuddin dikatakan berakhir dengan di tanda tanganinya PERJANJIAN BONGAYA pada tanggal 10 November 1667, karena pada tanggal 12 April 1668 pecah lagi peperangan antara kerajaan Gowa melawan VOC yang dibantu oleh sekutu-sekutunya. Bahkan peperangan sesudah perjanjian Bongaya ditandatangani terutama pertempuran memperebutkan BENTENG SOMBAOPU, lebih seru dan lebih dahsyat lagi.

Hampir setiap hari terjadi pertempuran-pertempuran dan tembak-menembak antara pasukan-pasukan kerajaan Gowa dengan pasukan-pasukan Belanda (VOC) yang dibantu oleh sekutu-sekutunya. Bahkan pada tanggal 8 menjelang 9 Agustus 1668 orang-orang Gowa berhasil meledakkan kapal Belanda “Purmerlant” dan menewaskan pemimpin kapal itu beserta 17 orang anak buahnya. Seraya menanti bala bantuan dan menyusun kekuatan militernya Belanda (VOC) berusahan menjalanka segala macam siasat untuk meninggalkan kerajaan Gowa. Untuk melumpuhkan dan menjaga agar kerajaan Gowa tidak mendapat bantuan dari luar, maka Belanda (VOC) dengan ketatnya memblokade pantai kerajaan Gowa. Tidak ada sebuah kapal atau perahu pun yang boleh keluar atau masuk kerajaan Gowa. Dengan dukungan armadanya serta keunggulan persenjataan meriam kapal-kapalnya Belanda (VOC) berhasil menguasai lautan dan mengadakan blockade yang ketat. Sementara itu pasukan-pasukan bugis ditugaskan merampas ternak, padi dan tanaman-tanaman lainnya di daerah pedalaman gowa. Dengan tindakan itu Belanda (VOC) berusaha menekan dan mengharapkan agar kerajaan Gowa mengalami kekurangan bahan pangan.

Baru pada awal bulan Juni tahun 1669 pasukan-pasukan Belanda dan sekutu-sekutunya berhasil mendekati dinding BENTENG SOMBAOPU. Kemudian diputuskan untuk mengadakan serangan umum terhadap BENTENG SOMBAOPU. Dengan meledakkan ranjau, Belanda dan sekutu-sekutunya berhasil membobolkan dinding BENTENG SOMBAOPU selebar lima roede (baca:rude). Satu roede sama dengan kira-kira 3,75 meter. Maka pertempuran sengit pun terjadilah tidak hanya pada hari tanggal 15 juni 1669 itu saja, akan tetapi juga pada malam harinya semalam suntuk dengan tiada henti-hentinya. Pertempuran yang berlangsung terus sampai 24 jam terus menerus itu sungguh suatu pertempuran berdarah yang sangat mengerikan. Orang-orang Belanda telah menembakkan tidak kurang dari 30.000 (tiga puluh ribu) butir peluru. Orang-orang Gowa bertempur sebagai ayam-ayam jantan yang gagah berani. Mereka dengan mati-matian mempertahnakan benteng kebanggaannya.

Betapa hebatnya pertempuran itu dapatlah kit abaca dalam pengakuan yang dibuat oleh orang-orang Belanda sebagai berikut: “er werd niet allen dien dag maar ook den volgenden nacht aan stuk door gestreden te gelooven zijnde dat het soo vreeselijcke nacht is geweest als crijgers van hoogen ou DERDOM mischien in europa selve niet dickwijls gehoort hebben. De Nederlandsche misketiers verschooten dien nacht 30.000 cogels! De vijend verdedige zich met een ware furie, tot op middag VAN DEN 17 den : toen was het resultaat . dat men ten koste van 50 doodenen 68 gewonden eenige belangrijke voorwerkwen van het kasteel bezet had die dadelijk met schanskorven warden versterkt”*) terjemahan bebasnya: “pertempuran terjadi tidak hanya pada hari itu saja, akan tetapi juga berlangsung terus pada malam berikutnya dengan tiada henti-hentinya, percaya atau tidak, malam itu adalah malam dahsyat yang sangat mengerikan, sehigga prajurit-prajurit yang suda lanjut usianya mungkin bahkan di Eropa sekalipun jarang yang pernah mendengarnya. Serdadu-serdadu penembak bangsa Belanda pada malam itu menembakkan 30.000 (tiga puluh ribu) butir peluru. Musuh (=orang-orang Gowa, penulis) mengadakan perlawanan yang gagah berani sampai pada sore hari tanggal 17 (juni). Hasil yang dicapai pada waktu itu dengan pengorbanan 50 (lima puluh) orang tewas dan 68 (enam puluh delapan) orang luka-luka, ialah beberapa bagian depan yang penting dalam benteng itu dapat direbut dan diduduki yang segera diperkuat dengan kubu-kubu pertahanan.

Di dalam tulisan orang Belanda yang lainnya ada ditulis antara lainnya sebagai berikut : “De oorlog tusschen de V.O.C. en Makassar, die in 1660 weder was uitgetbroken. Wellicht de en felste strijd ooid door de Compagnie gevoerd, wer 24 juni 1669 definitaef beslist door de verovering van het zwaar versterkte “hoofdkasteel”, tegelijk koninklijke residentie van Makassar , Sambaopu, hetwelk vanaf Mei belegerd was. In den nacht van 14 op 15 Juni had men een mijn onder den muur der vesting laten springen, maar de bestoming mislukte, aangezien de Makssaren achter den vernielden muur een nieuwe ver sperring wi sten op te ritchten en te behouden: den volgenden dag was het gevecht zo hevig “als crijgers van hoogen ouderdum misschien in Europa zelve niet dikwiils gehoord hebben”, zoo verschoten de Holandsche musketiers op dien dag 30.000 musketkogels.* Terjemahan bebasnya : “peperangan antara VOC dan Makassar (Gowa, penulis), yang pecah lagi dalam tahun 1668 barangkali pertempuran yang paling berat dan paling seru yang pernah dilakukan oleh kompeni (Belanda, penulis), telah ditentukan berakhir pada tanggal 24 Juni 1669 dengan direbutnya Benteng Sombaopu, “benteng utama” yang amat diperkuat dan sekaligus menjadi tempat kediaman raja Gowa, yang telah dikepung sejak bulan Mei. Pada malam tanggal 14 menjelang 15 Juni 1669 dibawah tembok benteng itu telah diledakkan sebuah ranjau tetapi penyerbuannya telah gagal, karena dibelakang tembok yang sudah dihancurkan itu orang-orang Makassar telsh berhasil membangun sebuah rintangan baru dan mempertahankannya; hari berikutnya pertempuran itu berlangsung begitu dahsyat, “sehingga prajurit-prajurit yang sudah lanjut usianya pun bahkan mungkin di Eropa tidak kerap mendengarnya”, demikianlah serdadu-serdadu pembawa bedil bangsa Belanda pada hari itu telah menembakkan 30.000 (tiga puluh ribu) peluru bedil.”

Demikianlah hebatnya pertempuran hari-hari pertama sejak pasukan-pasukan Belanda (VOC) dan sekutu-sekutunya pada malam tanggal 14 menjelang 15 Juni 1669 berhasil “merobek” dan menjebolkan dinding BENTENG SOMBAOPU dengan ledakan ranjau. Serbuan pasuka-pasukan Belanda (VOC) dan sekutu-sekutunya pada “robekan” dinding BENTENG SOMBAOPU yang lebarnya lima roede itu, dibendung dengan gagah berani oleh pasukan-pasukan Gowa dibawah pimpinan Sultan Hasanuddin. Bahakan serbuan pertama pasuka-pasukan Belanda(VOC) dan sekutu-sekutunya gagal karena berhasil dipukul mundur oleh pasukan-pasukan kerjaan Gowa yang bertempur dengan gagah berani. Keesokan harinya barulah terjadi pertempuran sengit seorang lawan seorang setiap jengkal tanah di dalam benteng itu di bayar denga mahal skali dengan pasukan-pasukan Belanda dan sekutu-sekutunya. Setelajh bertempur terus-menerus sejal tanggal 15 juni 1669 sampai dengan tanggal 1669, barulah pasukan-pasukan Belanda (VOC) dan sekutu-sekutunya dan sebahagian dan bahagian depan BENTENG SOMBAOPU di dalam pertempuran-pertempuran itu pihak belanda mengalami kerugian tidak kurang dari 50 (lima puluh) orang yang tewas dan 60 (enam puluh delapan) orang yang luka-luka. Pada hari-hari berikutnya pertempuran-pertempuran dilanjutkan dengan tidak berkurang serunya. Orang-orang Gowa betul-betul mempertahankan benteng kebanggaannya dengan gagah-berani.

Pada tanggal 19 juni 1669 pasukan Belanda (VOC) yang dibantu oleh pasukan-pasukan bugis yang dipimpin sendiri oleh Aru Palaka dan pasukan-pasukan Ambon di bawah pimpinan Kapten Joncker berhasil menancapkan panji-panji mereka di tembok BENTENG SOMBAOPU yang duabelas kaki tebalnya. Namun ternyata bahwa pertempuran-pertempuran itu merupakan awal dari pertempuran berdarah yang terakhir dalam memperebutkan BENTENG SOMBAOPU. Di dalam benteng yang tangguh itu masih terdapat banyak sekali rumah-rumah yang diperkuat dan juga dinding-dinding pertahanan dari nama orang-orang Gowa yang bertahan dengan mati-matian menembaki musuhnya dengan bedil, bahkan dengan meriam. Semuanya ini harus direbutu satu demi satu melalui petempuran-pertempuran yang sengit, karena orang-orang Gowa bertempur dengan semangat ayam jantan yang pantang menyerah. Setelah mencapai pusat benteng, maka speelman menyuruh membuat kubu pertahanan dan menyeret bebrapa buah meriam. Dengan demikian, maka pasuka-pasukan Belanda dan sekutu-sekutunya dapat menembaki istana Raja Gowa dan Baluwara agung dimana meriam dahsyat “Anak Makasar” ditempatnya. Pertempuran sengit masih berlangsung beberapa hari lamanya. Kemudian pasuka-pasukan Belanda dan sekutu-sekutunya berhasil membakan Sultan Hasanuddin dan Baluwara agung. Pada waktu Baluwara agung. Pada waktu baluwara agung terbakar, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan yang amat dahsyat. Kemudian ternyata bahwa ledakan itu disebabkan oleh karena orang-orang Gowa tidak rela kalo meriam keramatnya “Anak Makasar” jatuh ketangan musuh. Mereka berhasil meledakkan meriam itu. Akhirnya setelah pertempuran sengit dan berdarah dan tidak ada banding terangnya di dalam peperangan VOC di tanah air kita, maka pada tanggal 24 Juni 1669 jatuhnya BENTENG SOMBAOPU ke tangan pasukan-pasukan Belanda (VOC) dan sekutu-sekutunya.

Jadi kurang lebih Sembilan hari sejak “robeknya” dinding BENTENG SOMBAOPU, yakni dari tanggal 15 Juni 1669 sampai dengan tanggal 24 Juni 1669, setelah mengalami pertempuran berdarah berdarah yang satu, barulah pasukan-pasukan Belanda dan sekutu-sekutunya berhasil merebut dan memduduki BENTENG SOMBAOPU yang sangat tangguh itu.

Betapa tangguhnya BENTENG SOMBAOPU dapatlah kit abaca buku” Cornelis Janszoon Speelman” sebagai berikut: “Met eenige korte onderbrekingen zette Speeman de volgende dagen den strijd voort, en den 19 den slaagde er in zin admiraalswimpel en het vaan del der Amboneezen op den 12 voet dikken muur van het kasteel te plaatsen. Toen mendaar eindelijk overheen was. Bleek dit nog slechtys een begin tezijn daar zich binnen het kasteel tal van versterkte huizen en borstweringen bevonden. Van waaruit met kanon en masket gevuurd werd. Stuk voorstu moisten deze genomen worden.) terjemahan bebasnya kurang lebih adalah sebagai berikut: Pada hari-hari berikutnya dengan terputus-putus sebentar saja Speelman meneruskan pertempuran. Pada tanggal 19 Juni 1669 pasukan –pasukan Belanda dan sekutu-sekutunya berhasil menancapkan panji kelaksamanaan Speelman dan panji pasukan-pasukan Ambon pada tembok yang dua belas kaki tebalnya. Setelah bagian ini dilalui, ternyata bahwa hal itu barulah permulaannya saja, karena di dalam benteng itu masih terdapat banyak rumah-rumah yang diperkuat dan dinding-dinding pertahanan dari mana orang-orang Gowa menembak dengan bedil dam meriam. Semua itu harus direbut satu demi satu.Selanjutnya dapar pula dibaca sebagai berikut: “In Somboupo warden in total buit gemaakt 272 groote en kleine kanonne. Waaronder het fabule use anak Makassar dat wel beschadigd was, doch “sijn vervoeren en vertoonen nog genoegsaem waerdigh is”) Terjemahan bebasnya kurang lebih : “Di Sombaopu dapat direbut seluruhnya 272 (duaratus tujuhpuluh dua) pucuk meriam besar itu. Sungguhpun di dalam keadaan yang rusak, namun meriam itu masih juga menampakkan kedahsyatannya.

Demikianlah setelah dipertahankan dengan gagah-berani dan setelah mendapat gempuran-gempuran yng hebat dari pasukan-pasukan Belanda dan Sekutu-sekutunya, akhirnya pada tanggal 24 Juni 1669 benteng utama dan benteng tangguh kerajaan Gowa itu jatuh ketangan musuh. Benteng Sombaopu jatuh dengan hormat setelah pahlawan-pahlawan Gowa di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan yang gigih dan bertempur secara jantan. Pahlawan-pahlawan Gowa dibawah pimpinan Pahlawan Sultan Hasanuddin bertempur laksana ayam di medan laga. BENTENG SOMBAOPU telah jatuh dengan hormat dan akan mekar serta segar di dalam libuk kenangan setia pejuang dan patriot bangsa Indonesia yang inigin memperebutkan BENTENG SOMBAOPU diakui sendiri oleh Belanda sebagai pertempuran yang terhebat dan terseru yang pernah dilakukan oleh Belanda(VOC), sebagai berikut: “Decorlog tusshen de VOC en Makassar die in 1668 weder was uitgebroken. Wellicht de zwarste en felste strijd ooid door de compagnie gevoerd, werd 24 Juni 1669 definitief beslist door de verovering van het zwaar versterkte “hoofdkasteel”. Tegelijk koninklijke residentie van makasar Somboupo, hetwelk vanaf Mei belagerdwas.”) terjemahan bebasnya:’peperangan antara VOC dan Makassar (kerajaan Gowa,) yang pecah lagi dalam tahun 1668, barangkali pertempuran yang terberat dan terseruh yang pernah dilakukan oleh Kompeni (VOC), secara pasti ditentukan (diakhiri) pada tanggal 24 Juli 1669 dengan direbutnya BENTENG SOMBAOPU “benteng utama” yang diperkuat dengan hebat yang sekaligus menjadi tempat kediaman raja Gowa yang telah dikepung sejak bulan Mey 1669.

Karena takut kalau kerajaan Gowa bangkit kembali menentang kekuasaan Belanda dan agar semangat perlawanan ayam jantan sampai berkobar kembali didada putera- putera Gowa yang perkasa, maka Belanda menghancurkan BENTENG SOMBAOPU sampai rata dengan tanah. Sampai sekarang ini kecuali Fort Rotterdam yang sekarang sudah diganti namanya menjadi benteng Ujung Pandang, tidak ada satu benteng pun yang kita sebutkan tadi dalam rangkaian pertahanan kerajaan Gowa yang tidak dihancurkan diratakan dengan tanah oleh orang- orang Belanda.

Demikianlah BENTENG SOMBAOPU, benteng utama dan benteng kebanggaan kerajaan Gowa yang telah memberikan perlawanan yang gagah perkasa, dihancurkan dan diratakan dengan tanah oleh Belanda. Ibukota kerajaan Gowa pada zaman kejayaannya dimasa lampau BENTENG SOMBAOPUnya yang bersejarah, pada waktu sekarang ini telah hilang dari pandangan mata. Daerah itu telah berubah keadaannya menjadi daerah pedesaan yang diselang- selingi oleh tanah sawah, lading atau kebun. Bekas- bekas runtuhan ibukota kerajaan Gowa dengan BENTENG SOMBAOPUnya yang megah, yang pernah menjadi pusat kegiatan politik dan ekonomi/perdagangan dalam abad ke-17 di Indonesia Bagian Timur, kini tidak ada lagi. Bekas- bekas benteng kerajaan Gowa itu sudah tidak tampak lagi dengan sekali pandang. Namun bekas- bekas pendasinya masih dapat dilacak.
[ ... ]

3 Juni 2010

Efek Positif Event Bengkulu Riwayatmu Dulu

Ragam Bengkulu Hari ini, Blog berisikan konten Budaya Bengkulu, Sejarah Bengkulu, Kesenian Bengkulu, Dan Wisata Bengkulu.
Baru-baru ini Disbudpar Propinsi Bengkulu Mengadakan Event Bengkulu Riwayatmu Dulu yang dihelat mulai tanggal 28-30 mei 2010 yang lalu... alhamdulillah Objek bcb juga dapat kecipratan efeknya. sepengetahuan dan seoanjang pemantauan pak uncu, Pihak terkait melakukan refresh dibeberapa BCB yaitu pengecatan Benteng Fort Marlborough dan Restikering Plank Info BCB mesjid Padang Betuah...
[ ... ]

25 Mei 2010

Situs Website Penyelenggara lomba Menggambar Nabi Muhammad akhirnya kena deface oleh hacker

Ragam Bengkulu Hari ini, Blog berisikan konten Budaya Bengkulu, Sejarah Bengkulu, Kesenian Bengkulu, Dan Wisata Bengkulu.

Setelah berapa lama Pak Uncu nggak pernah posting berita lagi, pak Uncu tergelitik untuk menulis lagi tentang berita fenomenal Lomba karikatur Nabi Muhammad, maksud dan tujuan pak Uncu dalam Postingan ini bukanlah memihak, ataupun mendukung ataupun menolak ataupun kontra. tapi sebagai penyampai berita yang InsyaAllah Adil.
[ ... ]

26 Februari 2010

MTQN Nasional 23 Bengkulu dan Mesjid Abad 18 Bengkulu

Mesjid yang didirikan tahun 1800 an ini masih berdiri walaupun kondisinya kurang terawat.
Mesjid padang Betuah ini masuk dalam daftar situs cagar budaya Bengkulu yang terancam rusak bersama 27 situs lainnya.
Menurut warga sekitar, mesjid yang arsitektur atapnya berbentuk prisma ini telah ada sejak tahun 1800 an silam, tapi sangat sangat disayangkan, semenjak ditetapkannya mesjid ini menjadi cagar budaya, belum ada lagi perhatian pemerintah Bengkulu.
sangat ironis, disaat Pemerintah Bengkulu meluncurkan tahun kunjungan wisata 2010, dan bertepatan akan diadakannya perhelatan besar MTQ Nasional 2010 ternyata mesjid peninggalan sejarah ini tidak pernah dilirik oleh pemerintah. mesjid berukuran 7 m x 7 m ini sudah sangat memprihatinkan sekali di beberapa sisi. padahal mesjid yang berusia ratusan tahun ini masih digunakan untuk beribadah.
Menurut beberapa orang warga mereka pernah didatangi oleh sesorang yang mengaku dari Pemerintah Daerah Bengkulu tengah pertengahan Ramadhan kemarin, tapi janji yang tadinya mau merenovasi bangunan mesjid tak kunjung datang lagi.
[ ... ]

19 Februari 2010

Rantai sejarah yang Hilang dari Situs Benteng Kuto Aur

Benteng kuto aurRagam Bengkulu Hari ini,
Blog berisikan konten Budaya Bengkulu, Sejarah Bengkulu, Kesenian Bengkulu, Dan Wisata Bengkulu.
Benteng kuto Aur adalah sebuah Situs cagar budaya berlatar belakang sejarah penjajahan Jepang di Indonesia. Letak situs Benteng kuto aur ini berada di desa Tebat monok lamo, sebuah desa di daerah Tebat monok, kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu, Indonesia.
Cagar budaya ini bisa dijangkau dengan transportasi mobil, rute dari Kota Bengkulu anda harus menempuh 2 jam perjalanan ke kabupaten Kepahiang, dilanjutkan menuju desa tebat monok yang berjarak 5 menit dari kota kepahiang, kemudian anda musti menuju simpang kelilik yang berjarak 5 menit dari tebat monok tersebut.

Areal situs Benteng kuto aur ini memang hanya tinggal cerita sejarah saja, karena bentuk fisik situs ini sendiri telah lama "dirusak" . kenapa saya katakan dirusak? karena situs ini memang hanya berupa lahan yang dikelilingi oleh aur atau bambu berduri (thorny bamboo) yang fungsinya pada jaman penjajahan Jepang sebagai tempat perlindungan jikalau tentara Jepang memasuki desa tersebut.
Menurut tokoh adat dan para tetua desa tersebut, bambu yang berjumlah ribuan ini sa
ngatlah rapat, dan kuat sehingga tentara Jepang tidak pernah berhasil menembus pagar bambu hidup tersebut hanya warga sekitar saja yang tahu jalan masuk melewati sela-sela bambu yang penuh dengan duri di batang dan ruas bambu tersebut. cagar budaya ini musnah dikarenakan ketidak tahuan pemilik lahan yang telah turun temurun dan acap berganti pemilik ini akan pentingnya arti situs benteng kuto aur ini.
Berdasarkan informasi yang penulis terima, Bambu-bambu tersebut berjumlah sangat banyak dan berduri, hal ini menyebabkan pemilik lahan memusnahkan bambu-bambu tersebut puluhan tahun yang lalu jauh sebelum UU no 5 thn 1992 ada. akhirnya berdasarkan berbagai informasi, penulis memutuskan untuk mengilustrasikan situs benteng kuto aur ini kedalam sebuah gambar.

Berikut Adalah Keadaan Kawasan Benteng Kuto Aur Sekarang:
Benteng kuto aurBenteng kuto aurBenteng kuto aur
[ ... ]